“Aku bukan anak
durhaka”
Pesantren,,
Tempat kumuh yang berserakan sampah,,
Ayat-ayat yang membisingkan telinga
diteriakkan,,
Mentari dari arah timur berjalan dengan
gagahnya,,
Celotehan-celotehan munafik mulai
terdengar,,
Dan hewan-hewan tunduk mendengarkan,,
Celotehan-celotehan firman,,
Celotehan-celotehan sabda,,
Celotehan-celotehan qur’an,,
Celotehan-celotehan hadits,,
Celotehan-celotehan tuhan,,
Celotehan-celotehan rosul,,
Celotehan-celotehan kemunafikan menuntut
untuk di amalkan,,
Semua hewan bingung dalam mengartikan,,
Dan aku mulai teringat,,
Pesan si petua yang membesarkanku,,
Sebelum aku akan dilemparkan kedalam
penjara kuning keemasan,,
Nak,, Aba sudah tua,,
Isilah kertas putih dengan tintamu,,
Pakailah baju ketaqwaanmu,,
Bentangkanlah selendang kehijauaanmu,,
Lilitkanlah kain tipis pada kepala dan
mahkota kebudayaanmu,,
Lalu aku berkata,,
Maaf aba,, izinkan anakmu berkata
sejenak dihadapanmu,,
Agar engkau tau maksud dan tujuan dari
putramu,,
Pesanmu akan selalu tertancap dalam
sanubari hatiku,,
Akan aku salibkan pesanmu pada otak
kanan kiriku,,
Akan aku gerakkan dengan kesempurnaan
jasad yang kumiliki,,
Tapi aku pinta aba,,
Untuk yang pertama kalinya,,
Jangan kau bekukan gerakku dengan
kedinginan lemari keinginanmu,,
Biarkan aku berjalan dengan sandal
jepitku ini sendiri,,
Biarkan aku berlari mengerjar sebuah
tujuan yang sama dengan keinginanmu,,
Caraku dan caramu memang berbeda,,,
Tapi keinginanku dan keinginanmu sama,,
Aku anakmu,, bukan musuhmu,,
Langkahku menggapai keridlahan tuhanmu,,
Aku sayang kepadamu aba,,
Maafkan ucapan dan perilakuku,,
Aku bukan anak durhaka aba,,
Blandongan, 18 September 2012 H
Temon Magribsank Santri Punk
Achmad Mi’yarul Ilmi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar